Puisi Terakhir Almarhum Pepeng Untuk Sang Istri, Bikin Nangis Badai

Puisi Terakhir Almarhum Pepeng Untuk Sang Istri, Bikin Nangis Badai

Meninggalnya komedian sekaligus presenter Ferrasta Soebardi alias Pepeng, hingga saat ini masih menjadi duka mendalam bagi dunia hiburan tanah air dan juga untuk  keluarganya. Salah satunya adalah sang istri tercinta, Utami Mariam Siti Aisyah. Hingga detik ini ibu dari 4 orang anak tersebut masih saja terlihat murung dan tak henti menitihkan air mata mengingat kepergian dari sang suami.

Pepeng merupakan sosok yang luar biasa bagi Utami dan juga anak-anaknya. Meskipun di dera sakit yang luar bisa, cint aPepeng untuk sang istri tercinta dan anak-anaknya tak pernah surut. Ketegaran dan senytum selalu terpancar dari raut Pepeng, meskipun sebenarnya rasa sakit pada tubuhnya sudah tak terkira lagi.  Meskipun badan sudath tidak berdaya lagi, sosok Pepeng masih bisa bersikap romantis kepada sang istri, salah satunya adalah dengan membuatkan puisi seperti berikut ini.

Berikut ini adalah puisi Pepeng untuk istri tercinta, yang pasti bakal bikin kamu nangis:

Dua orang mahasiswa mengikat cinta dalam perkawinan untuk menghindari berbagai hubungan yang dilarang Sang Khalik.

Hari itu, 30 Oktober 1983, si pria 29 tahun dan gadisnya 22 tahun. Dua orang mahasiswa mengikat cinta dalam perkawinan untuk mendapat keturunan sepeti yang diperintahkan Sang Khalik.

Anak pertama lahir, si bapak mengurus, menjaga malam hari, mengganti popok, dan memandikan, si ibu menyusui. Mereka masih muda dan saling mencinta. Si pria 32 tahun dan kekasihnya 25 tahun.

Si pria sudah sarjana, setelah 10 tahun, setelah mempunyai anak dua. Mereka masih muda dan saling mencinta, si pria 34 tahun dan kekasihnya 27 tahun.

Si pria sudah bekerja, kekasihnya sudah sarjana, anak mereka sudah empat. Hari itu mereka memasuki rumah yang diidamkan oleh setiap keluarga. Mereka masih bugar dan saling mencinta. Si pria 42 tahun dan kekasihnya 35 tahun.

Hari ini si pria 54 tahun, ia tergeletak karena sakitnya didampingi oleh kekasihnya yang 47 tahun, tidak muda lagi menjelang ulang tahun perkawinan mereka yang ke-25.

Dalam sakitnya, berkelebat semua kenangan dengan kekasihnya. Dalam sakitnya ia menulis untuk kekasihnya:

“Dik Uta,” demikian panggilan kesayangan sang pria setelah sakit untuk kekasihnya yang bernama Utami.

Saya tidak akan pernah lupa ketika awal penyakit itu datang kamu menenangkan saya dengan kata-kata, “Kita sedang menjalani peran baru.”

Subhanallah, Dik Uta, kata-kata itu sangat menjadi inspirasi untuk saya menjalani sakit saya. Saya selalu berdoa, “ Ya Allah berilah kecerdasan untuk kami agar kami selalu melihat semua ketetapan-Mu melalui sudut pandang yang membahagiakan.”

Peran baru, itu adalah salah satu sudut pandang yang cerdas dan membahagiakan.

Ah, Dik Uta, terlalu banyak dan panjang jika saya tulis betapa besar rasa terima kasih atas ketegaranmu menjalani peran baru ini.

Saya tahu Dik Uta sedih, tapi kamu tetap tegar.

Saya tahu Dik Uta takut, tapi kamu tetap tegar.

Saya tahu Dik Uta lelah, tapi kamu tetap tegar, mengurus saya, membersihkan dan membalikkan bada saya setiap satu jam di malam hari.

Saya tahu Dik Uta ingin jalan-jalan untuk menghilangkan jenuh, tapi kamu tetap tegar mendampingi saya karena saya tidak bisa ditinggal terlalu lama sendiri.

Saya tahu Dik Uta selalu mengharapkan kata-kata cinta dari saya, tapi kamu tetap tegar walau kamu tak pernah mendengar kata-kata itu.

Hari ini kamu akan mendengar dari mulut saya.

“Dik Uta, aku cinta kamu tanpa batas. “

“Saya akan selalu bahagiakan kamu tanpa batas. “

“Saya akan selalu ada untuk kamu tanpa batas. “

Kelak kalau saya sudah bisa jalan, kita akan pergi kemana pun kamu mau, yang selama ini tidak pernah kita lakukan.

Dik Uta, pikirkanlah yang terbaik tentang cita-cita kita, karena Allah berfirman, “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku.”

 

Februari, 2009

 

Pepeng Ferrasta

Itulah barisan puisi yang di tuliskan oleh almarhum Pepeng untuk istri tercinta sebelum di panggil oleh sang Khalik. Betapa indahnya setiap baris yang tercantum dalam puisi tersebut, makna cinta yang luar bisa dalam tergambar jelas di dalamnya.

 

Terima kasih sudah membaca artikel Puisi Terakhir Almarhum Pepeng Untuk Sang Istri, Bikin Nangis Badai, Silahkan share jika artikel tersebut bermanfaat dan jangan lupa untuk melihat juga artikel menarik lainnya...

Penulis : - May 9, 2015