Tau Gak Rasanya Mendaki Pertama Kali Ke Gunung Gede Pangrango

Libur telah tiba….libur telah tiba hehehe, itulah gambaran perasaan senang saya dan teman-teman ketika liburan kuliah. Untuk menyambut datangnya momen ini, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke suatu tempat wisata. Dan tempat yang kami tuju waktu itu adalah Gunung Gede karena pastinya menantang dan penuh petualangan.

Nah, kalau mengingat pengalaman itu, sekarang efeknya jadi mau naik gunung terus. Makanya belum lama ini saya hunting Gunung-Gunung berikutnya yang biasa dijadikan tempat pendakian. Dan untuk trip berikutnya kita mau menjelajah ke Gunung Semeru dengan puncak Mahamerunya. Kebetulan kita dapat tiket promo Air Asia, setelah sebelumnya dapat saran dari teman-teman komunitas di forum backpacker untuk berburu tiket pesawat di Traveloka.com mumpung lagi banyak promo.

Sekarang kita balik lagi ke cerita Gunung Gedenya ya. Sebuah cerita tentang pengalaman anak muda Bogor (saya dan ketujuh teman) berpetualang ke salah satu Gunung di area Jawa Barat.

Setelah proses pemilihan tempat liburan, yaitu Gunung Gede, kami masih memiliki selang waktu kurang lebih 2 bulan. Nah, selama penantian saya mempersiapkan stamina dengan olahraga rutin dan fotokopi KTP sebagai syarat untuk mendapatkan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) di pos pendaftaran di kawasan Cibodas, Cianjur, Jawa Barat. Setelah mendapatkan SIMAKSI saya pun segera kembali untuk mempersiapkan peralatan lain yang dibutuhkan selama proses pendakian nanti. Peralatan dasar yang wajib dimiliki oleh masing-masing pendaki sebelum memuai pendakian antara lain adalah, jaket gunung, tas carrier, sleeping bag, baju ganti, celana panjang, sandal gunung, sepatu gunung, dan juga perbekalan makanan secukupnya. Selain itu ada juga tenda yang akan menjadi tempat tinggal kami selama di Gunung nanti.

Pas tiba waktunya, tau-tau terdengar suara nyaring (Bahasa Sunda):

Todi: “Bangun…bangun, Nggeus wayahna Subuh yeuh…”
Andi: “Eemmm….Engke Tod, urang tunduh keneh, keur alus ngimpina heee…”

Itulah sedikit percakapan yang saya ingat dan sedikit menggelitik pas menjelang keberangkatan ke Gunung Gede. Ya, untuk memudahkan perjalanan kami memilih untuk menginap di rumah Todi. Setelah semuanya siap, kami langsung menuju Terminal Baranangsiang dengan menyewa satu angkot dengan harga Rp. 70.000 untuk 8 orang. Sesampainya di Terminal, kami lanjut dengan mobil Elf jurusan Cipanas dengan biaya Rp 15.000/orang.

Perjalanan ternyata masih panjang, dari pertigaan pasar Cipanas kami pindah lagi ke Ojek untuk menuju pos Gunung Putri. Adrenalin semakin meningkat dan salah satu teman kami Rendi berteriak dan bernyanyi sedikit:

Rendi: “Yuuuhuuu….mendaki gunung melewati lembah….”
Andi: “Siga Lagu na Ninja Hatori Rend…hihihi”
Rendi: “Hehe…kajeun ah Di”

Maklum masih pertama kali, jadinya semangat banget dan sensasi backpackeran pun seakan-akan merasuk ke dalam tubuh selama perjalanan.

Nah, pada pendakian kemarin kami pilih jalur Gunung Putri untuk ke Gunung Gede. Jalur ini merupakan salah satu akses resmi selain jalur Cibodas dan Selabintana di Sukabumi.

Setelah sampai di pos pendakian gunung putri, kami langsung mengurus perizinan untuk dapat memulai pendakian. Sementara itu, beberapa teman saya beli nasi bungkus untuk bekal di siang hari. Sebelum berangkat, kami mengisi perut dulu biar energinya bisa bertambah, dilanjutkan dengan sholat berjamaah dan berdoa agar semuanya dilancarkan. Setelah itu, Todi melakukan briefing singkat yang isinya antara lain:

Todi: “Coba dicek peralatan dan perlengkapannya. Pastikeun lengkap sadayana ok?”
Todi: “Urang akan mimpin di payun, dan lamun aya nu perlu sesuatu kasih tau ok.”
Lainnya: “OK, Tod.”

Ya, karena Todi satu-satunya yang sudah berpengalaman maka kami pun mengangkatnya jadi Leader pada pendakian ini. Trek pendakian awal melalui jalur Putri ini terbilang sangat mengasikkan, hamparan sawah di samping kanan dan kiri akan memanjakan mata dan mencoba mengurangi betapa lelahnya kaki ini dalam melangkah. Pendakiannya dimulai jam 13.00 WIB dan pada jam 18.30 kami sampai di sebuah padang luas yang bernama Surya Kencana. Ini merupakan tempat favorit bagi para pendaki untuk mendirikan tenda dan bermalam sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak. Menurut Todi, pendakian menuju puncak dari Surya Kencana ini tinggal membutuhkan waktu 1 jam saja. Jadi kayanya udah deket nih, walau pada kenyataannya masih lumayan juga hehe.

gunung gede

Nah itu di gambar adalah Surya Kencana, tempat kami beristirahat. Walaupun ada sedikit sampah tapi tempatnya masih asri alamnya dan pastinya dingin banget. Kami cuma bisa berdiam diri di tenda karena memang kondisi cuaca di luar sangat dingin. Terlebih pada jam 10 malam, hujan mulai turun sehingga suhu jadi tambah dingin.
Selang waktu berlalu dan pada jam 4 pagi kami dibangunkan oleh Todi untuk segera bersiap-siap, karena pendakian menuju puncak akan segera dimulai. Tepat jam 4.30 kami mulai mendaki kembali untuk menuju puncak Gunung dan Alhamdulilah tepat 1 jam perjalanan kami sampai di puncak Gunung Gede untuk menikmati sunrise. (Selama perjalanan ga banyak yang bisa dilihat karena langitnya memang masih gelap dan udara dingin yang menyengat membuat saya ingin cepat-cepat mencapai puncak gunungnya).

Lega rasanya dan sekaligus puas, biar badan pada lemes, kaki pada gemeteran tapi sensasinya ga terlupakan. Pastinya Joss banget, campur aduk dan menyenangkan. Nah, ada teman-teman yang tertarik dengan liburan ke Gunung? Dijamin akan seru, asik dan secara tidak langsung kita akan sadar serta kagum akan kebesaran ciptaan Tuhan YME. Have fun.

Lihat juga artikel indahnya dunia lainnya, mungkin pengen lihat makanan ala penjara di jepang hehe.

Terima kasih sudah membaca artikel Tau Gak Rasanya Mendaki Pertama Kali Ke Gunung Gede Pangrango, Silahkan share jika artikel tersebut bermanfaat dan jangan lupa untuk melihat juga artikel menarik lainnya...

Penulis : - August 29, 2014